Harliantara atau lebih dikenal dengan nama Harley Prayudha, figur lelaki satu ini telah malang melintang di dunia radio. Ia adalah salah satu instruktur penyiaran nasional Indonesia. Berkarir dalam dunia kepenyiaran radio, ia memulai sejak tahun 1985, dilalui selama 5 tahun di Radio OZ FM Bandung, kemudian tahun 1990 hingga 1991 fakum di dunia siaran radio karena harus melanjutkan sekolah ilmu Manajemen di Stamford College Singapura.

Sepulangnya dari Singapura, lelaki kelahiran 28 Desember 1963 ini kembali menekuni dunia siaran radio, ia bergabung dengan Radio TRIJAYA FM Jakarta pada tahun 1992. Karena talenta yang ia miliki, penghobi traveling ini mendapatkan kepercayaan untuk mengelola Radio METRO STATION RRI PRO 2 FM Surabaya. Ia kemudian melanjutkan karirnya di SCFM Surabaya, naungan pengelolaan TRIJAYA FM Group Jakarta, yang melakukan ekspansi Radio networking di Surabaya.

Selama perjalanan mengelola radio SCFM, tahun 1997, ia mendapat kesempatan mendalami dunia kepenyiaran atas undangan Pemerintah Amerika Serikat melalui USAI (Departemen Penerangannya AS ) di 8 kota Amerika Serikat melalui The Internasional Visitor Program – Broadcasting Management (Washington DC. New York, Atlanta, Kansas City, Columbia Missouri, New Orleans, Phoenix, Berkeley, dan San Francisco).

Kemudian pada bulan April, tahun 1998 ayah dari Harlita Nidhasari & Harlino Nandha Prayudha serta suami dari Jeanne Peggy Ratnasari ini menjadi perwakilan Indonesia untuk mengikuti The International Broadcaster Conferences di Washington DC. Membahas masalah Child Survival atas undangan Voice Of America. Sekembalinya dari AS, Harley mengundurkan diri dari SCFM Surabaya dan bergabung dengan Suzana Radionet menjadi Station Manager EBS FM Surabaya tahun 1998 sampai 2000. Pada Tahun 2001-2005 kemudian ia menjadi General Manager DELTA FM Surabaya , April 2008-Maret 2012 menjadi Unit Leader MRA BMD Bandung (Hardrock FM & I-Radio), Maret 2012 – Juli 2012 sejenak menangani RADIO 2.0 INDONESIA sebagai Project Director.

Perjalan karir Harley tidak berhenti sampai disitu, ia tetap mengembangkan karirnya dibeberapa stasiun radio lagi sebagai konsultan radio, baik di Surabaya, Padang, Pekanbaru, Balikpapan, Banjarmasin, Kupang Nusa Tenggara, Tulungagung, Pontianak, dan kota lain di Indonesia. Segudang pengalaman di radio telah ia jalani, mulai dari level bawah, hingga puncak pimpinan sekalipun. Kiprah Harley tidak hanya di radio, ia juga sempat mengantarkan on air perdana stasion televisi lokal JTV di Surabaya sebagai program manager, dan juga sempat menjadi direktur TV Anak Surabaya (Spacetoon), akan tetapi ia akhirnya menetapkan hati kembali ke dunia penyiaran radio karena baginya radio adalah dunianya.

Radio Tiada Matinya
Ketika ditanya tentang alasan menekuni dunia radio, ia mengatakan bahwa awalnya hanya sekedar hobi, lalu mantap berkarir di radio. Awalnya sih hobi di radio, lalu saya meyakini bisa sukses di radio asal komit dan belajar, yah sekarang malah jadi karir, tukasnya.

Industri radio dari zaman dulu sampai sekarang memang tidak ada matinya, itu karena menurut Harley, industri radio memiliki karakteristik yang berbeda dengan media lain. Karena mampu menjangkau kelompok sasaran yang spesifik. Radio bisa didengar dan bisa menjangkau khalayak potensial setiap saat, dimanapun mereka berada. termasuk perkembangan saat ini Radio tidak hanya di medium frekuensi (Conventional Media) namun sudah mulai bergerak koeksis dengan medium internet (New Media) kemudian ia-pun melakukan penelitian BEYOND RADIO yang menurutnya bisa menjadi radio masa depan menangkap ide cipta aplikasi inovasi pengembang technology yang kini ia gunakan sebagai radio eksperimen medium baru melalui internet, Ujar Harley.

Sukses sebagai profesional radio, Harley pun kini menjadi Direktur Utama New Shinta FM Bandung selain menjadi Dosen Tetap di Prodi Ilmu Komunikasi , Fakultas Komunikasi Dan Bisnis, Telkom University. Baginya Hidup adalah medan perjuangan, sukses sebagai praktisi radio, profesi lain yang ia jalani adalah praktisi marketing komunikasi, pembicara seminar komunikasi, juga mengabdikan diri pada dunia keilmuan sebagai fasilitator dan pembicara seminar bidang komunikasi di John Robert Powers Indonesia. Di bidang pendidikan, ia juga pernah menjadi dosen tetap khusus di UK Petra Surabaya Jurusan Komunikasi dan Jurusan media Penyiaran STIKOM Bandung. Hingga kini masih aktif menjadi dosen terbang di Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNITOMO Surabaya, serta mengajar di D3 PAKT Jurusan Penyiaran FIKOM UNPAD Bandung, serta sekaligus menempuh program doktor (S3) ilmu komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung, saat ini sudah meraih gelar DOKTOR yang telah diselesaikannya pada tanggal 12 November 2014.

Penghargaan yang pernah diraihnya adalah Manager Program Terbaik – Lomba Prestasi Insan Radio , PP PRSSNI Tahun 1995, Instruktur Terbaik – John Robert Powers Surabaya, Tahun 2007. Selain itu penulis buku radio diterbitkan Bayu Media Malang : RADIO : Suatu Pengantar & Wacana Untuk Praktik Penyiaran (2005), RADIO : Penyiar It’s Not Jus A Talk (2007), dan menerbitkan sendiri karya buku lainnya Think and Learn Radio (2011), serta Radio is Sound Only (2013) diterbitkan oleh Broadcastmagz Publisher Jakarta.

1.
givamz
23081 points